Arsip untuk ‘Kesehatan’ Kategori

h1

Mengatasi Uban di Usia Muda..!

Mei 8, 2008

Rambut putih yang menghiasi kepala identik dengan usia lanjut. Ada pula yang mengaitkannya dengan sikap bijaksana. Namun bila hela-helai uban itu datang lebih cepat, tak jarang bikin bingung. Orang pun sibuk menutupinya dengan segala cara. Mengapa uban tumbuh sebelum waktunya?
Permaisuri Raja Louis XVI dan Perancis, Marie Antoinette, dikenal sebagai ratu yang muda, cantik dan glamor. Kecantikan dan kejayaannya lenyap seketika seiring meletusnya Revolusi Perancis. Gonjang-ganjing revolusi membuat rambutnya yang pirang menawan itu menjadi cepat memutih di usia yang relatif muda. Sejak kisruh politik tahun 1789 itu sang ratu dikabarkan mengalami stres terus-menerus sampal ajal menjemputuva empat tahun kemudian. Stres memang merupakan salah satu faktor penyebab ubanan sebelum waktunya.
Menurut Dr. Wirda A. Rush, dokter spesialis kulit dan kelamin, RS Mitra Keluarga Jatinegara stres bisa menyebabkan macetnya produksi pigmen pewarna rambut yang disebut melanin. Pigmen ini dihasilkan oleh sel tubuh yang dikenal sebagai melanosit. Rambut menjadi putih karena melanosit tidak lagi memproduksi melanin

Kurang B12
Macetnya produksi pigmen karena stres ini bersifat sementara. Bila tubuh sudah tidak mengalami stress, produksi pigmen kembali lancar.
“Oleh karena itu atur keseimbangan waktu untuk bekerja, istirahat dan rekreasi. Dengan demikian stres bisa diatasi dengan baik dan rambut beruban sebelum waktunya bisa dicegah,” saran Dr. Wirda.
Konsumsi makanan yang mengandung vitamin B12 juga akan menghambat pertumbuhan uban. Menurut Diana Bihova. M.D, dari New York University Medical Center, stres yang berlebihan bisa menguras cadangan vitamin B12.
Terkurasnya vitamin ini mempercepat tumbuhnva rambut putih. Keadaan gizi yang buruk karena asupan makanan yang kurang seimbang juga mempengaruhm kesehatan rambut. Gizi yang buruk tidak hanya menimbulkan uban, tapi juga mengganggu kondisi kesehatan rambut secara umum. Itu sebabnya anak-anak yang mengalami gangguan gizi berat, rambutnya tampak kemerahan dan tidak sehat.
Dokter Wirda menambahkan, konsumsi gizi yang cukup pun bisa saja tidak bermanfaat bila terjadi gangguan pencernaan. Misalnya ada luka di lambung. Gangguan pencernaan membuat metabolisme berlangsung tidak semestinya, sehingga makanan bergizi terbuang percuma.

Faktor Keturunan
Selain kedua hal di atas, faktor keturunan adalah penyebab munculnya uban di usia muda yang paling umum.
Informasi tentang rambut putih yang tumbuh lebih dini itu tersimpan di dalam gen. Ini berarti bila orangtua dan kerabat dekat mulai beruban di usia belia, kemungkinan untuk cepat beruban akan lebih besar.
“Orang yang mendapat gangguan penyakit berat mempunyai kecenderungan untuk beruban sebelum waktunya.” ungkapnya. Gangguan karena kelainan metabolisme, kelainan imunitas, kelainan hormonal, sinar X, keracunan logam berat, dan gangguan ginjal berkontribusi menambah jumlah uban di kepala.
Kelainan metabolisme menyebabkan fenil analin yang terdapat pada asam amino tidak dimetabolisme dengan baik sehingga menimbulkan uban. Pada gangguan kelainan imunitas terjadinya uban mirip dengan vitiligo.
Vitiligo, penyakit yang diderita Michael Jackson, adalah timbulnya bercak putih di kulit karena rusaknya pigmen. Sel pigmen dirusak oleh sel-sel daya tahan tubuh sehingga kehilangan warna.
Gaya hidup yang tidak sehat juga punya kontribusi mempercepat tumbuhnya uban. Dokter Wirda menilai kebiasaan merokok menghambat aliran zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh yang dibawa dalam peredaran darah. “Merokok tidak hanya menyebabkan rambut beruban sebelum waktunya, dan secara keseluruhan merugikan kesehatan,” tandasnya.

Kinerja Ginjal
Berkurangnya produksi pigmen rambut sehingga menimbulkan ubanan adalah hal yang wajar saat usia memasuki akhir 30-an atau awal 40-an.
Menurut akupunturis dan ahli tanaman obat Putu Oka Sukanta, rambut pria mulai ditumbuhi uban pada usia 40-an. Sementara rambut wanita mulai beruban pada usia pertengahan 30.
Dari segi akupuntur tumbuhnya uban di usia muda menunjukkan kinerja ginjal dan paru-paru yang berfungsi kurang optimal. “Fungsi ginjal dan organ tubuh lain pada pria dan wanita paruh baya sudah tidak optimal lagi, sehingga tumbuhnya uban di kepala mereka adalah wajar,” jelas Putu Oka.
Menurutnya faktor eksternal juga mempercepat tumbuhnya uban di usia muda. Faktor eksternal tersebut adalah penggunaan minyak rambut, cat rambut, jenis-jenis makanan tertentu serta polusi.
Penggunaan minyak dan cat rambut tidak hanya mengenai rambut tetapi meresap ke dalam pori-pori kulit kepala. “Zat-zat kimia yang terkandung dalam minyak dan cat rambut mempengaruhi kesehatan rambut,” kata Putu Oka.
Dia tidak menyarankan untuk mencabuti uban karena menurutnya kulit kepala penuh dengan susunan syaraf. Memilih cat rambut juga harus cermat karena kecocokan kulit kepala setiap orang dengan cat rambut berbeda-beda. Ia menyarankan beberapa cara alami untuk mengatasi uban yang tumbuh sebelum waktunya, yaitu dengan olahnapas, meditasi, olahraga dan akupresur.
Dari sisi makanan ia menganjurkan untuk mengkonsumsi sumber pangan yang berkhasiat menguatkan ginjal serta paru-paru. Pemakaian minyak rambut alami yang dibuat dari minyak wijen, kemiri, atau cem-ceman daun mangkokan serta daun dan bunga sepatu juga sangat baik untuk memperlambat uban.
“Minyak tersebut dioleskan pada kulit kepala. Pengolesan yang disertai pemijatan kulit kepala yang benar dapat memperlancar energi chi di kepala,” imbuhnya.
Tak lupa Putu Oka juga menyarankan pemakaian sampo yang mengandung bahan alami dan tidak terlalu banyak mengandung soda. Selama ini orang menganggap sampo yang baik adalah yang banyak busanya. Padahal banyak busa berarti banyak soda dan justru tidak sehat untuk rambut.

Makanan yang disarankan:
Jus wortel dan tomat
Jus wortel dan bayam ditambah wijen
Jus melon dan aneka buah yang mengandung vitamin C
Daun pantago (ki urat)
Daun pegagan

Makanan yang dihindari:
Kacang hijau
Taoge
Selada
Sawi-sawian
Sirsak
Duku
Lidah buaya
Santan
Makanan yang mengandung bahan pengawet, pewarna, gula, serta bahan kimia. @ Diyah Triarsari

h1

Menggempur Uban Prematur

Mei 8, 2008

RUPANYA, gelombang perubahan tak hanya menerpa kehidupan berbangsa. Ia bisa terjadi pada siapa dan apa saja, termasuk pada uban sekalipun. Rambut putih — yang dulu merupakan dominasi kaum lanjut usia — kini memperluas serangan pada kelompok muda.

Hasil penelitian Diana Bihova, M.D., dermatolog asal New York University Medical Centre menunjukkan, tumbuhnya uban pada mereka yang berusia relatif muda — termasuk yang masih berstatus pelajar, masih energik dan segar bugar — memang cenderung meningkat. Ya, kini uban tak hanya mengincar kakek-nenek berusia 50 tahun ke atas.

Tampilan uban berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang cuma beberapa helai dan berlindung di antara rambut hitam, namun ada juga yang mendominasi wilayah rambut. Ini cukup menjengkelkan. Masalahnya, nyaris tak ada seorang pun yang bersuka cita menyambut kedatangan uban, lantaran orang sudah terlanjur mengidentikkannya dengan usia tua.

Ada kalangan menduga-duga bahwa kemunculan uban prematur (lebih cepat dari yang seharusnya), terpicu oleh stres atau kebiasaan berpikir terlalu keras. Sementara itu, hasil penelitian di Mount Sinai School of Medicine, New York, membuktikan adanya kaitan tak langsung antara stres dan suburnya uban. Penderita stres lebih banyak menguras energi dari tubuhnya. Bila tak ada pasokan makanan atau sumber energi yang mumpuni, daya tahan tubuh akan merosot dan berujung pada proses degenerasi sel, di antaranya timbul uban.

Ada juga yang mengambinghitamkan produk kecantikan seperti sampo, obat pengeriting, pelurus rambut, dan conditioner sebagai penyebab kemunculan si rambut putih. Sesungguhnya, jika produk tersebut tidak cocok, bisa mengakibatkan kepucatan helai-helai rambut. Sekilas memang mirip uban, meski sebenarnya bukan. Rambut hanya rusak di lapisan luarnya. Jika pemakaian produk yang kurang berjodoh itu dihentikan, rambut rusak dapat kembali ke warna semula.

Seperti zebra
Secara alamiah, warna rambut manusia bermacam-macam, ada pirang, cokelat, merah, abu-abu, serta hitam legam. Warna-warna ini dipengaruhi melanin, sejenis pigmen pewarna. Melanin diproduksi sel melanosit yang ada di akar rambut.
Akibat pertambahan usia, terjadilah proses degenerasi sel atau penurunan aktivitas sel-sel dalam tubuh. Ketika proses ini terjadi, aktivitas sel melanosit pun ikut menurun. Akibatnya, produksi melanin merosot, bahkan pada titik tertentu sama sekali akan berhenti berproduksi. Buntutnya, rambut yang semula berwarna gelap berubah jadi putih. Si putih inilah yang biasa disebut uban.

Tak ada waktu yang seragam kapan perubahan warna itu terjadi. Pada orang-orang kulit putih yang berambut pirang atau cokelat, umumnya uban muncul sekira usia 20 tahun. Pada orang negro, sekira 30 tahun. Warga asli Asia ada pada kisaran usia 25 tahun, kecuali Jepang. Bangsa negeri Sakura ini mulai beruban sekira usia 30 tahun. Bila orang Asia berusia di bawah usia 25 tahun sudah beruban, berarti ia mengalami kemunculan uban prematur.

Penderita uban prematur dengan tampilan warna putih merata kemungkinan besar disebabkan oleh faktor genetis alias keturunan. Biasanya, bila orang tuanya beruban dini, kelak anak-anaknya pun berpeluang mengalami hal yang sama. Dalam ilmu genetika, hal ini disebut autosomal dominan.

Ada juga kasus lain. Seseorang menderita uban prematur seperti kakek, nenek, atau pamannya, padahal orang tuanya tidak demikian. Peristiwa ini merupakan proses genetis spontan. Tanpa ada garis keturunan langsung, tahu-tahu seseorang beruban lebih cepat.
Selain secara genetis, uban dini yang tersebar merata dapat juga disebabkan oleh autoimmune disorder di kulit kepala. Antibodi tubuh seharusnya menggempur sel-sel asing yang ”bertamu” di badan seperti bakteri atau virus. Akan tetapi, pada autoimmune disorder, antibodi malah menyerang tubuh sendiri karena ia tak mengenal lagi sel-sel yang selama ini telah tinggal serumah dengannya. Jika proses tersebut terjadi pada sel melanosit kulit kepala, produksi melanin akan terganggu dan uban pun unjuk diri.

Uban yang muncul secara lokal juga bersifat genetis. Umumnya, hanya 25% dari keturunan penderita yang mendapatkan warisan tersebut. Uban setempat ini terjadi bila ada infeksi di kulit kepala gara-gara kehadiran virus herpes serta akibat vitiligo (kelainan pada kulit yang belum jelas penyebabnya, namun diduga karena autoimmune disorder). Virus herpes yang sedang jahat-jahatnya mampu menembus akar rambut dan mengganggu sel melanosit. Akibatnya, kehadiran uban hanya di lokasi yang terserang.
Saat virus masih bercokol maka rambut akan berubah putih. Sebaliknya, bila ia mati, rambut baru di bawah akar akan tumbuh kembali membawa warna hitam. Sementara itu, helaian di bagian atas yang sudah putih akan tetap berwarna demikian karena uban bersifat irreversible (tak dapat hitam kembali). Karena itulah, terkadang pada lembaran rambut ada yang belang hitam-putih seperti zebra.

Tumbuhnya uban juga dapat terpacu akibat radiasi di kulit kepala. Biasanya, ini terjadi pada penderita kanker atau pasien yang sering melakukan terapi radiasi di kepala. ”Pengenaan sinar radiasi dalam porsi mini, tapi sering akan mengganggu stabilitas kerja sel melanosit sehingga produksi melanin merosot tajam,” kata Walter Unger, M.D,, profesor dermatologi di Mount Sinai School of Medicine.
Kekurangan nutrisi yang parah, khususnya zat besi dan vitamin B12, juga dapat merangsang timbulnya uban. Ini tampak pada penderita anemia pernisiosa (kekurangan sel darah merah kronis). Rambut mereka kerap memutih meskipun masih belia.

Mencabut uban
Secara tradisional, kelapa, kemiri, lidah buaya, atau kembang sepatu dapat berkhasiat menghitamkan rambut, tapi tidak serta-merta mengobati ubannya. Bila ingin menggunakan kelapa, pilih buah yang tua, parut, kemudian jemur di bawah panas matahari. Setelah itu, tanpa menambahkan air, peras hingga keluar minyaknya. Gunakan minyak ini untuk mengolesi rambut secara teratur.

Untuk resep kemiri, gongsenglah (Sunda: sangrai) bumbu dapur ini hingga berwarna kehitaman, lalu haluskan sampai keluar cairan. Inilah yang disebut minyak kemiri. Pemakaiannya sama saja dengan minyak kelapa tadi.
Atau mau menggunakan kembang sepatu? Remaslah beberapa tangkai bunga sepatu, kemudian campur dengan daging daun lidah buaya. Oleskan ramuan ini pada rambut secara merata, kemudian kompreslah dengan handuk hangat. Bila suhu handuk menurun, bisa dicelupkan ke air hangat dan diulangi sampai beberapa kali. Setelah itu, rambut dicuci hingga bersih. Namun, hasil maksimal dari usaha ”menggempur” uban prematur ini tidak didapat dalam waktu singkat, melainkan butuh ketelatenan, kesabaran, dan waktu relatif lama. Selain itu, strategi perlawanan terhadap uban ini juga perlu mendapat dukungan pasokan nutrisi lengkap dan melakukan relaksasi secara teratur untuk menghindari stres.

Karena rambut yang terlanjur berwarna putih tak dapat berubah sendiri jadi hitam, mewarnai rambut bisa jadi salah satu cara paling praktis meskipun sama sekali tak bersifat menyembuhkan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan obat pewarna rambut kimia.

Pertama, pastikan tak ada luka terbuka di kulit kepala. Jika menerobos luka, zat kimia pada pewarna rambut akan masuk ke dalam tubuh dan meracuni darah. Tingkat keracunannya tergantung pada konsentrasi zat pewarna yang dipakai.
Kedua, ketahuilah apakah tubuh alergi terhadap zat warna kimia. Untuk memastikannya, oleskan sedikit pewarna rambut pada kulit tangan. Jika alergi, dalam satu jam akan timbul rasa gatal atau kulit jadi kemerahan.

Belakangan muncul anggapan bahwa pencabutan uban justru akan mempersubur si rambut putih. Faktanya tidak demikian, lantaran melanosit takkan rusak saat uban tercabut.

Secara logika, karena ingin mencabut, yang mungkin terjadi adalah penderita semakin mencurahkan perhatian pada uban, sehingga ia merasa ”rambut tua”-nya jadi tambah banyak. Diana Bihova yang juga penulis buku ”Age Erasers for Women menambahkan, mencabut sehelai uban tidak berefek mempercepat tumbuhnya uban baru.

Di kalangan anak muda muncul lelucon konyol bahwa uban merupakan neon kuburan. Akan tetapi, kaum optimistis membantahnya dengan mengatakan bahwa uban identik dengan menebalnya kearifan dan kebijakan seseorang. Sementara itu, aliran lain berpendapat bahwa kemunculan uban merupakan pertanda optimalnya pemanfaatan kerja otak. Namun, apa pun komentar orang terhadap uban, yang jelas helai-helai rambut putih itu tak membawa pengaruh apa pun terhadap kreativitas manusia. Jadi, sebenarnya, kalau Anda tak mau repot, berdamai dengan uban pun tak masalah! (rinrin r. khaltarina).***